Bullying di SMPN 33 Palembang Viral, Psikolog: Jangan Salahkan Sekolah, Anak Perlu Dibina Bukan Dihukum
Bullying di SMPN 33 Palembang Viral, Psikolog: Jangan Salahkan Sekolah, Anak Perlu Dibina Bukan Dihukum
Palembang, beranda-berita.com – Kasus perundungan (bullying) yang viral di media sosial dan melibatkan siswa SMPN 33 Palembang menuai perhatian luas dari masyarakat. Menanggapi fenomena tersebut, psikolog anak Asiawatie Sulastri, S.Psi., M.Psi., memberikan pandangan profesional yang menekankan pentingnya pendekatan pembinaan, bukan sekadar menyalahkan pihak tertentu.
Asiawatie yang saat ini tengah menempuh program doktoral di bidang psikologi anak di salah satu universitas di Indonesia, menilai bahwa kasus bullying di lingkungan sekolah tidak bisa dilihat secara sederhana dengan langsung menyalahkan institusi pendidikan.
“Sekolah tidak bisa serta-merta disalahkan. Dengan jumlah ratusan siswa yang harus dikelola oleh tenaga pendidik, tentu ada keterbatasan dalam pengawasan secara menyeluruh,” ujarnya.
Menurutnya, perilaku perundungan pada anak merupakan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari lingkungan keluarga, pola asuh, hingga pengaruh pergaulan dan media sosial.
Lebih lanjut, Asiawatie menegaskan bahwa baik pelaku maupun korban merupakan anak-anak yang masih berada dalam tahap perkembangan psikologis, sehingga membutuhkan pendampingan yang tepat.
“Saya tidak setuju jika solusi yang diambil adalah memberhentikan pelaku maupun korban dari sekolah. Mereka adalah anak-anak yang justru harus kita bina, kita arahkan, dan kita pulihkan secara psikologis,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa langkah yang lebih tepat adalah menghadirkan intervensi psikologis, edukasi karakter, serta memperkuat sinergi antara sekolah, orang tua, dan tenaga profesional.
Kasus ini, lanjutnya, harus menjadi momentum evaluasi bersama, bukan hanya bagi sekolah, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat luas dalam menciptakan lingkungan yang aman dan sehat bagi tumbuh kembang anak.
“Yang kita butuhkan bukan mencari siapa yang salah, tetapi bagaimana memastikan kejadian serupa tidak terulang, serta bagaimana anak-anak ini bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik,” tutup Asiawatie.
Kasus bullying yang viral ini diharapkan menjadi pengingat penting bahwa penanganan masalah anak memerlukan pendekatan yang komprehensif, humanis, dan berkelanjutan.
( Suwarso )
