Viral Perundungan Siswa SMPN 33 Palembang, Alumni Psikologi Soroti Dampak Psikis dan Peran Lingkungan Sekolah

0
WhatsApp Image 2026-07-14 at 12.13.57

Viral Perundungan Siswa SMPN 33 Palembang, Alumni Psikologi Soroti Dampak Psikis dan Peran Lingkungan Sekolah

Palembang, 14 Juli 2026, beranda-berita.com — Kasus perundungan (bullying) yang melibatkan siswa SMP Negeri 33 Palembang dan viral di media sosial menuai perhatian luas publik. Video yang beredar memperlihatkan tindakan tidak pantas antar pelajar, memicu keprihatinan berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi dan praktisi psikologi.
Alumni mahasiswa psikologi, Herman Abdullah, S.Psi., angkat bicara terkait fenomena tersebut. Ia menilai bahwa perundungan di kalangan remaja bukan sekadar tindakan kenakalan biasa, melainkan persoalan serius yang dapat berdampak jangka panjang terhadap kesehatan mental korban maupun pelaku.
“Perundungan yang terjadi di usia remaja dapat menimbulkan trauma psikologis, seperti kecemasan, depresi, hingga penurunan kepercayaan diri. Bahkan, dalam beberapa kasus, dampaknya bisa terbawa hingga dewasa,” ujar Herman saat dimintai tanggapan.
Menurutnya, pelaku bullying juga perlu mendapat perhatian khusus. Ia menjelaskan bahwa perilaku agresif pada remaja sering kali dipengaruhi oleh lingkungan, baik keluarga, pergaulan, maupun paparan konten digital yang tidak sehat.
“Pelaku tidak selalu sepenuhnya ‘salah’, tetapi bisa jadi merupakan hasil dari pola asuh yang kurang tepat atau lingkungan sosial yang permisif terhadap kekerasan. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan harus bersifat edukatif, bukan semata-mata hukuman,” tambahnya.
Herman juga menekankan pentingnya peran sekolah sebagai garda terdepan dalam mencegah dan menangani kasus perundungan. Ia mendorong agar pihak sekolah memperkuat sistem pengawasan, menyediakan layanan konseling yang aktif, serta membangun budaya sekolah yang inklusif dan saling menghargai.
Selain itu, ia mengajak orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Komunikasi yang terbuka dinilai menjadi kunci dalam mendeteksi dini potensi perundungan, baik sebagai korban maupun pelaku.
“Orang tua harus hadir secara emosional. Jangan hanya fokus pada akademik, tetapi juga kondisi psikologis anak. Ketika anak merasa aman untuk bercerita, maka potensi masalah bisa dicegah sejak awal,” tegasnya.
Kasus ini pun menjadi pengingat bahwa perundungan bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan tanggung jawab bersama. Sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dinilai sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan sehat bagi tumbuh kembang generasi muda.
Hingga saat ini, pihak terkait diharapkan dapat mengambil langkah cepat dan tepat untuk menangani kasus tersebut, sekaligus menjadikannya sebagai momentum evaluasi dalam memperkuat pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
( Usdek S. )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share on Social Media